Tiga tahun sudah gue dirantau, selama tiga tahun itu tentunyatelah pengalaman yang gua peroleh, pelajaran hidup yang terus menuntun gue menuju kedewasaan seperti quot yang menyebutkan "Jangan takut menjadi tua, tapi takutlah untuk tidak menjadi dewasa".
Hilir mudik serta hiruk pikuknya ibu kotapun telah gue rasakan, kejam, sadis dan sedikit sudut kesenanganpun telah gue rasakan, meskipun gue ngak tinggal persis di jakarta, karena gue tinggal di perbatasan antara tanggerang dan jakarta, ciputat, daerah macet parah yang ngak kenal waktu.
Lu jangan pernah berharap ciputat ngak macet, satu-satunya daerah ini ngak macet hanya jam 1-6 pagi kawan, jadi kalau mau jalan-jalan ke daerah ini dan ngak ingin ngerasain macet, gue saranin ke lo buat jalan jam segitu :).
Kehidupan di kota besar tidaklah asik kawan, tidak seperti namanya, JAKARTA, "apa yang lu bayangin tentang kota itu?"
+ Keren
+ Megah
+ Mall yang berjejer
+ Monas, atau bahkan surga?
Sebelum gue menginjakkan kaki di sini gue juga berpikiran begitu, tapi hal itu sontak berubah setelah akhir 2010 gue menginjakkan kaki di jakarta, lebak bulus, ya itu tempat yang pertama kali gue kunjungi ketika hendak meneruskan perjalan kebandung waktu itu, pertama kalinya gue kembali menginjakkan kaki di jakarta setelah sebelumnya gue kesini sekitar kelas 4 SD.
Sontak pikiran gue tentang jakarta berubah dan yang muncul di dalam kepala gue saat itu "Kok bisa ya orang hidup ditempat kayak gini?" So dari kesemua hak yang gue rasakan itu kalau lo merasa pernah merakannya, nah, jangan-jangan lo lagi dijakarta haha.
+ Jakarta itu tempat sampahnya gede kawan
Kalau biasanya dirumah gue punya tempat sampah paling gede itu diameter + 50-60 cm dan tinggi + 0,5-1 meter, yang paling gede juga unggunan sampah yang siap untuk dibakar, nah kalau di jakarta beda, mereka punya tempat sampah yang lebar plus panjang lagi, ukurannya ngak bisa gue sebutin karena sakin panjangnya. Kok bisa? ya, karena kali disana nyaris berfungsi seperti tempat sampah, ngak pernah gue ngliat kali di jakarta tanpa sampah dan sampahnya ngak tanggung-tanggung.
+ Motor, mobil kalksonya bunyi terus terlebih kalau lagi macet
Ini tingakah polah pengendara di jakarta yang agak mengganggu kehususnya gue pribadi. Apalagi kalu macet bunyi klakson ngak bakal berhenti, saling sahut menyahut padahal kalau dipikir lagi mau bunyiin klakson sekeras apapun itu jalanan ngak bakal langsung lancar boy. Gue ngak kebayang kalau klakson itu di ganti sama basoka, hahaha, mungkin udah pada saling tembak mereka.
+ Macet
Macetnya di jakarta itu udah ngak ketulungan kawan, sampai-sampai lu berangkat kerja jam 6:00 dengan jam 6:05 pas nyampe kantornya bisa selisih 30 padahal waktu berangkatnya cuma beda 5 menit, gue pernah ngarasain ini waktu mengiuti training di kuningan bulan juni kemaren.
+ Jembatan penyebrangan area jualan
Berapa banyak sih jembatan penyebrangan di jakarta, jelas banya walaupun gue sendiri belumpernah ngitung. Normalnya jembatan penyebrangan digunakan oleh pejalan kaki, tapi beda cerita kalau di jakarta, disini jembatan penyebrangan itu jadi arena untuk berjualan oleh para pedangang kaki lima, alhasil jalannya jadi sempit.
+ Angkutan suka ngetem
Ini yang paling menjengkelkan, rata-rata angkutan dijakarta paling hobi ngetem. Untuk ngetem mereka bisa menghabiskan waktu + 30 menit, belum lagi perjalanan macet, maka perjalan menggunakan angkutan umum pasti lama.
+ Mpet-mpetan di transjakarta
Angkutan yang katanya memberikan solusi kemacetan, mungkin iya, tapi nunggu transjakartanya bisa makan waktu + 0,5-1 jam, setelah itu di dalamnyapun pasti desak-desakan, akibatnya seperti yang banyak lu liat di brita-berita ada yang kejepit pintu transjakarta, jarinya putus, sampai pelecehan seksual.
+ Komuter line
Ini satu-satunya angkutan yang nyaman untuk dinaiki menurut gue, tapi kendalanya tidak semua lokasi bisa dicapai dengan menggunakan komuterline ini. Komuterline tepat waktu, dan yang pastinya nyaman kalau ngak sesak juga, kebetulan waktu itu gue nyoba naik malam hari pas pulang training bulan juni kemaren bareng dosen gue, ngak kerasa udah nyampe aja di tujuan :).
+ Mall adalah tempat main
Kalau lu tanya tempat main di jakarta semua orang pasti memulih mall gue juga ngak tau kenapa alasannya, mungkin karena sudah ngak banyak ruangan terbuka hijau di sini.
Segitu aja yang bisa gue tulis disini, sebenernay masih banyak tapi guenya yang udah ngak kuat ngetik, gimana kalau lo ngerasa udah pernah ngalamin kejadian-kejadian diatas, jangan.. jangan.... lo lagi di JAKARTA..
Gak kerasa udah bulan april, dan alhamdulillah kemaren BBM gak jadi naik, hayo siapa yang kmaren ikutan demo penalokan kenaikan BBM acungkan kakinya. Ini pengelaman gue, kalo lo idup di jakarta lo pasti tau dan pernah ngerasain naik angkutan yang namanya trans jakarta, kejadian ini gue alami saat loooong weekend kemaren, memamfaatkan long weekend kemarin gue memutuskan buat jalan ke Gramedia yang di matraman, lagi ngejar promo buku murah, alhamdulillah dapat beberapa buku dan beberapa novel bagus dengan harga murah, dapat potongan sampai 50%, sampai saat ini buku-buku itu masih belum sempat gue sentuh dan masih terpajang manis di rak buku.
TransJakarta, salah satu angkutan favorit gue (Rp 3.500 bisa keliling jakarta coy), ketika bepergian melintasi ini, apalagi kalau bukan karena segi ekonomisnya :), ya TransJakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bus Way, gue juga gak tau kenapa itu disebut Bus Way, jelas-jelas di Bus itu terpampang tulisan TransJakarta, sedangkan Bus Way itu jalur busnya.
TransJakarta yang hadir dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta solusi-solusi yang matang pada perencanaannya, namun minus pada saat pelaksanaan dilapangan. Hal ini terlihat jelas, mulai dari pemberlakuan area khusus wanita serta memajang tulisan penumpang maksimal 85 orang, walau pada akhirnya tidak ada yang peduli dengan aturan ini.
Tidak jarang yang tadinya area khusus wanita kemudian ditempati oleh laki-laki, tidak ada lagi yang peduli dengan aturan-aturan itu, kenyamana yang tadinya ditawarkan dengan kehadiran angkutan inipun akhirnya lenyap tak bersisa, yang ada hanyalah sebuah angkutan masal sejenis namun sedikit lebih berkelas karena menggunakan AC, serta memiliki jalur khusus, itupun kalau tidak diserobot oleh pengguna kendarana pribadi.
Begitu banyak himbauan yang terpampang di jendela Bus, namun siapa peduli, himbauan itu tak ayal hanya sebagai selogan-selogan untuk memperindah tampilan bus tersebut, termasuk salah satunya himbauan yang menurut saya sedikit rancu, di sana tertulis Max 85 orang.
Melihat penumpang yang begitu membludak diatas TransJakarta yang gue naiki untuk pulang itu, maka gue berasumsikan bahwa tulisan Max 85 orang itu bukanlah total seluruh penumpang di dalam bus itu, melainkan total penumpang yang berdiri, maka dengan begitu jika ada yang komplen dengan penumpan yang terlalu penuh tentu tidak bisa, hal ini disebabkan tulisan Max 85 orang itu tidak spesifik.
Berangkat pagi - pulang sore, ini dia masalah yang selalu gue hadapi, ketika ingin pergi membeli buku, jadi benar-benar harus menyediakan waktu khusus untuk pergi membeli buku, padahal libur lho, inilah jakarta dengan segala kedamaian dalam kebisingannya, dimana waktu adalah segalanya, dan jarum jam terasa bergerak lebih cepat dari biasanya.
TransJakarta, salah satu angkutan favorit gue (Rp 3.500 bisa keliling jakarta coy), ketika bepergian melintasi ini, apalagi kalau bukan karena segi ekonomisnya :), ya TransJakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bus Way, gue juga gak tau kenapa itu disebut Bus Way, jelas-jelas di Bus itu terpampang tulisan TransJakarta, sedangkan Bus Way itu jalur busnya.
TransJakarta yang hadir dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta solusi-solusi yang matang pada perencanaannya, namun minus pada saat pelaksanaan dilapangan. Hal ini terlihat jelas, mulai dari pemberlakuan area khusus wanita serta memajang tulisan penumpang maksimal 85 orang, walau pada akhirnya tidak ada yang peduli dengan aturan ini.
Tidak jarang yang tadinya area khusus wanita kemudian ditempati oleh laki-laki, tidak ada lagi yang peduli dengan aturan-aturan itu, kenyamana yang tadinya ditawarkan dengan kehadiran angkutan inipun akhirnya lenyap tak bersisa, yang ada hanyalah sebuah angkutan masal sejenis namun sedikit lebih berkelas karena menggunakan AC, serta memiliki jalur khusus, itupun kalau tidak diserobot oleh pengguna kendarana pribadi.
Begitu banyak himbauan yang terpampang di jendela Bus, namun siapa peduli, himbauan itu tak ayal hanya sebagai selogan-selogan untuk memperindah tampilan bus tersebut, termasuk salah satunya himbauan yang menurut saya sedikit rancu, di sana tertulis Max 85 orang.
Melihat penumpang yang begitu membludak diatas TransJakarta yang gue naiki untuk pulang itu, maka gue berasumsikan bahwa tulisan Max 85 orang itu bukanlah total seluruh penumpang di dalam bus itu, melainkan total penumpang yang berdiri, maka dengan begitu jika ada yang komplen dengan penumpan yang terlalu penuh tentu tidak bisa, hal ini disebabkan tulisan Max 85 orang itu tidak spesifik.
Lagi pula siapa yang peduli dengan tulisan Max 85 orang itu, para penumpang yang mau naikpun pasti akan tetap memaksa untuk masuk, meskipun bus sudah penuh, yang penting bagi mereka sampai ditujuan, alasan lainnya adalah mereka juga malas untuk menunggu bus berikutnya yang belum pasti datang 5 atau 10 berikutnya dan juga belum tentu kosong, gue aja nunggu bus berikutnya nyaris sampai 40 menit, jadi ya sama-sama berbagilah, toh sama-sama bayar juga kan :D.
Maka jangan heran kalau kemudia terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjepit pintu bus, berdesakan-desakan, bahkan terjatuh ketika turun karena berebut dan saling mendorong, serta sampai terjadi pelecehan seksual, wajar saja hal ini terjadi jika kondisi nya seperti itu.
Maka jangan heran kalau kemudia terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjepit pintu bus, berdesakan-desakan, bahkan terjatuh ketika turun karena berebut dan saling mendorong, serta sampai terjadi pelecehan seksual, wajar saja hal ini terjadi jika kondisi nya seperti itu.
![]() |
| Sempet"in ngambil foto |
